|
Ada 4 kematian dan berita duka belakangan ini yang bikin saya trenyuh.
Yang pertama adalah si kembar Syafitri. Lahir tak sempurna dengan dua kepala tetapi menempel pada bagian dada dan perut. Organ tubuhpun tidak lengkap untuk menjadi 2 individu, bahkan mengalami kelainan jantung sejak lahir caesar di Denpasar Bali. Masih sempat bertahan hidup 10 hari saja, akhirnya, kembar Syafitri menghadap sang khalik. Selamat jalan ananda, semoga kau menerangi jalan ayah dan ibunya menuju surga nanti. Amin
Kematian berikutnya adalah Muhammad Ridwansyah. Seorang pemuda gagah dari Mataram. Saya masih bisa mengingat ekspresi wajah Ridwan ketika segerombolan pemuda bertato (baca: preman) menghajar dirinya. Kala itu, terjadi pemberontakan mahasiswa di kampus IKIP Mataram yang menutut proses terpilihnya rektor yang baru. Masalah utamanya tidak terlalu penting bagi saya. Tapi rektor terpilih berlindung di klantornya yang diberi pagar betis berupa pemuda-pemuda bertato, bahkan juga mengacungkan senjata, layaknya preman di jaman jahiliyah. Bentrokan fisik tak dapat dihindari. Sebahagian mahasiswa lari tunggang langgang dikejar preman dengan senjata tajam yang mengacung ke udara. Sebagian preman mengejar dengan sepeda motor. Beberapa mahasiswa lari dan bersembunyi di rumah Ridwan yang tidak jauh dari lingkungan kampus. Dianggap melindungai mahasiswa yang memberontak, preman-preman itu menggelandang Ridwansyah, lalu memukulnya, menendangnya dan bahkan menusukkan senjata tajam ke badan Ridwan di hadapan rekan-rekannya. Jeritan mahasiswi terdengar sangat jelas ketika saya menyaksikan siaran televisi yang berulang-ulang memberitakan peristiwa biadab itu. Ridwan tidak terlihat melawan. Wajahnya tenang, kuat dan tidak menunjukkan bahwa darah telah tercurah dari badannya akibat 3 tusukan. Muhammad Ridwansyah menjadi korban kesewenang-wenangan. Adinda, pergilah dengan tenang. Saya dan teman-temanmu, pasti mendoakan yang terbaik buatmu. Amin.
Ketiga, Steve Irwin, sang pemburu buaya, meninggal terkena sabetan ekor beracun ikan pari. Dunia, dan saya pastinya, kehilangan sosok kocak yang seolah tak kenal rasa takut ketika menaklukkan hewan liar. Steve Irwin meninggal dengan cara yang sangat mulia, yaitu ketika melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Good bye, mate!
Meninggal ketika menjalankan tugas dan pekerjaan konon adalah cara dan waktu meningal yang terbaik. Tapi bagaimana dengan kasus kematian yang ke 4? Beberapa pemulung tertimbun dan tewas ketika tumpukan sampah di TPA Bantargebang Bekasi, runtuh menjelang tengah malam. Hingga pencarian dihentikan, diduga masih banyak korban yang tidak berhasil dievakuasi. Saudara-saudaraku para pemulung yang malang, ketahuilah bahwa mutiara tetaplah mutiara walaupun harus berkubang dan tertimbun sampah. Semoga Allah menempatkan kalian pada tempat yang layak dan melapangkan jalanmu menuju surgaNya. Amin.
|
| uli September 15, 2006 09:30 AM PDT innalillahi... | ||
| Rinto September 15, 2006 12:16 AM PDT Imgar, Semoga kita selalu diingatkan akan kematian dan kita sudah siap untuk menghadap sang khalik. Nuwun ya Kang :) Kesamaia, Apa yang mesti diperbuat? Mari kita mulai berbenah dari diri kita. Mulai yuk... 1 2 3.. go! :)) | ||
| kesamaia September 14, 2006 07:44 PM PDT banyak kesakitan di sekitar kita mungkin akan membawa hal baik untuk semuanya....untuk kehidupan yang lebih tertata. tapi memang dunia kita sekarang menyedihkan ya..... | ||
| imgar September 13, 2006 02:03 AM PDT kematian.. adalah akhir yang menjadikan sebuah awal.. suatu kepastian yang tidak pernah kita tahu kapan datangnya.. | ||
| Leave a Comment: |