|
Saya yakin seyakin-yakinnya, semua yang pernah sekolah, pernah mengikuti upacara bendera. Suka atau tidak suka, setiap siswa diharuskan berbaris setiap Senin, menghadap tiang bendera. Bahkan, ada juga yang Senin upacara penaikan bendera, Sabtu upacara lagi, penurunan bendera ....ck ck ck...... Perlu banget ya?
SD, SMP, SMA bahkan sampai kuliah, saya sering kebagian jadi petugas upacara bendera. Tentu saja bukan sekedar peserta upacara, tetapi pernah bertugas sebagai pengibar bendera, komandan upacara, protokol yang membacakan susunan acara, bacain Pancasila atau Pembukaan UUD 45, bahkan juga memimpin lagu.
Yang paling seru adalah waktu kelas 3 IPA 4 di SMA Negeri 2 Padang. Waktu itu kelas kami kebagian menjadi kelas yang bertugas melaksanakan upacara hari Senin. Hari Sabtu sebelum Senin itu, kami berlatih dengan serius. Petugas-petugas sudah ditunjuk dan saya waktu itu tidak bertugas. Tetapi, Sandra Mahyeni yang bertugas memimpin lagu (dirigen, begitu istilahnya) meminta saya yang melatih teman-teman di hari Sabtu itu. "Hari Senin, Yeni yang mimpin," janjinya.
Ok deh.... saya melatih teman-teman sekelas agar kompak menyanyikan lagu Indonesia Raya saat menaikkan bendera, latihan juga lagu pengiring mengheningkan cipta serta 1 lagu wajib, yang waktu itu kami sepakat memilih lagu "Hari Merdeka" ciptaan H Mutahar. Latihan itu beres dan berjalan dengan baik.
Hari Senin tiba. Ndilalah.... malang tak dapat diraih. Mujurpun tak dapat ditolak. Sandra Mahyeni, yang bertugas memimpin lagu, tidak datang. Mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang, saya harus ambil alih menjadi pemimpin lagu. Dan itu untuk pertama kalinya di sekolah kami seorang dirigen adalah laki-laki.
Lagu pertama, Indonesia Raya, berjalan lancar. Lagu kedua yang liriknya "Dengan seluruh angkasa raya memuji, pahlawan negara... dst dsb dll sdsb", juga berjalan dengan selamat dan syahdu mengiringi suasana hening saat mengheningkan cipta. Giliran lagu ketiga, lagu yang patriotik, kelas kami 3 IPA 4, menyanyi dengan sangat kompak dan penuh semangat.
Tapi, apa yang terjadi setelah lagu itu selesai?
Kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia, tetap sedia membela negara kita.
Tiba-tiba, lapangan upacara di SMA Negeri 2 Padang gemuruh dengan tepuk tangan dan sorak sorai, pertanda peserta upacara suka dengan lagu yang kami bawakan.
Dan seperti lazimnya pertunjukan musik yang ditonton oleh mayoritas orang Padang, maka bergema pula suara "Tambuah ciek... tambuah ciek... tambuah ciek..."
Onde mande.....
|
| kesamaia September 14, 2006 08:21 PM PDT yen tak pikir pikir,manfaat upacara bendera itu supaya kita gak gampang pingsan.Sumpahh 12 tahun upacara tiap senen mungkin yang paling krasa ya gitu..jadi anggota koor soalnya lumayan di depan dan biasanya matahari tidak langsung ke arah kita.Duhh,kalo inget masa itu,kemana ya patriotisme yang digemborgemborkan dulu... | ||
| boelandoea August 25, 2006 06:55 PM PDT emang apa ya yang salah dengan lagu je? | ||
| Rinto August 18, 2006 02:22 AM PDT Uli, cape dan panas belum seberapa jika dibandingkan dengan perjuangan para pejuang merebut kemerdekaan ini. Cieeeee..... | ||
| uli August 14, 2006 12:19 PM PDT ga pernah suka upacara cape panas | ||
| Leave a Comment: |