sebelas4
Male
Jakarta, Tangerang
   

<< December 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Nov 3, 2006
Pindah Rumah

Saudara-saudara,

Rumah ini sudah tak lagi bisa memenuhi harapan

Padahal di rumah ini banyak suka cita, padahal rumah ini aku menemukan cinta

Pindah adalah keputusan

Temukan rumah baru adalah keharusan

Suka cita diajak serta, cinta pasti mengikutinya

Insya Allah, bisa menampung segalanya. Amin

 

Saudara-saudara,

Ini rumah baru ku www.sebelas4.blogspot.com 


Posted at 03:59 pm by sebelas4
Make a comment  

 
Oct 11, 2006
Kring Kring.... Pos!

Tadi pagi ada tetangga yang menanyakan kode pos daerah rumah kami. Tanpa ditanya, si Ibu setengah baya itu bilang bahwa dia akan mengirim Kartu Lebaran untuk saudara-saudara yang menyebar di Jawa, Sumatra dan ada juga yang di luar negeri. Kode pos pengirim penting, katanya, terutama kalau kirim surat ke luar negeri.

Kapan ya terakhir kali saya terima surat yang dikirim melalui pos dan diantar tukang pos? Kalau terima tagihan sih, tiap bulan. Big Smile Tagihan kartu kredit, Big Smile telepon, Big Smile listrik. Tapi diantar oleh kurir. Dulu, waktu masih tinggal di Padang , tukang pos masih naik sepeda. Kalau lewat di depan rumah, bunyi lonceng sepedanya khas banget. Kring….. kring.... Ada atau tidak ada surat , lonceng sepeda itu selalu dibunyiin. Kadang saya berlari menuju pintu depan, walau kadang kecele juga. Dulu sih, Angry sebel banget. Sekarang senyum-senyum saja mengenang cerita dulu itu. Ada juga surat yang diantar pakai motor. Kalau sudah berhenti di depan rumah, maka terdengarlah suara Pak Pos yang renyah dan khas itu," Possss!" Biasanya, surat kilat khusus diantar pakai motor. Atau bingkisan, atau wesel . ( Shocked Wesel ? Masih ada gak ya?)
 
Giliran Lebaran menjelang, tukang pos dengan sepeda paling rajin menghampiri rumah kami. Setiap hari ada perasaan senang menerima Kartu-kartu Lebaran dari famili maupun teman-teman, baik untuk orang tua kami, maupun untuk saya atau saudara-saudara yang lain. Bentuk dan ukuran bermacam-macam. Indah-indah.
 
Kami di rumah, tidak hanya sekedar menerima Kartu lebaran. Kami juga mengirim ke banyak famili yang dituakan seperti angkatan kakek atau nenek, om atau tante dan kakak-kakak yang tinggal berjauhan, di luar kota . Yang kebagian tugas tentu saja kakak saya yang paling tua, Uni Dini. Di setiap Kartu Lebaran akan di tulis "Dari Dini dan Adik-adik".Smile
 
Tapi itu dulu. Sekarang, saya sudah tidak pernah lagi menerima Kartu Lebaran. Kalaupun ada, tidak diantar tukang pos, tapi dari teman kantor yang diletakkan di meja saya. Sejak beberapa tahun belakangan, E-Card yang dikirim melalui email juga cukup banyak saya terima. Tapi SMS yang paling sering saya terima sebagai pengganti Kartu Lebaran. 
 
Tanpa mengurangi rasa hormat, sejujurnya saya lebih suka menerima Kartu Lebaran. Bisa disimpan, ada tanda tangan yang sangat personal. Butuh pengorbanan tenaga dan waktu khusus untuk memilihnya, menempelkan perangko lalu mengantarkannya ke kantor pos terdekat atau sekedar dijemplungin ke bis surat yang ada dipinggir jalan tapi sering tak kelihatan.
 
Tapi kemajuan zaman dan teknologi membuat saya harus mengalah. SMS dan ECard memang lebih praktis dan cepat. Murah dan mudah. Klik dan kirim.Tinggal sekarang bagaimana pesan yang kita kirim punya sentuhan pribadi dan personal. Bukan sekedar copy paste atau forward dari pesan orang lain, yang kadang lupa diedit sehingga nama pengirim sebelumnya pun masih tertera dan terkirim Shades. Mari berkirim salam maaf. Mari kreatif agar terasa ketulusannya.
 
Salam buat para Tukang Pos yang konon masih ada di daerah-daerah. Terima kasih dan tetap semangat membunyikan lonceng itu…. Kring kring….. Pos!TongueTongue

Posted at 07:16 pm by sebelas4
Comments (2)  

 
Oct 3, 2006
Sahur... sahur......!!!!

Punya teman yang kalo tidur susah bangun alias kebo? Saya punya. Sadar dirinya begitu, maka teman itu minta tolong agar dibangunkan setiap sahur. Padahal dia sudah nyalain weker serta sudah pasang alarm pula di handphone. Dasar kebo (hihihi), masih kurang, sehingga masih dirasa perlu untuk minta tolong orang lainWink.

Saya melakukan tugas itu dengan senang hati. Betapa tidak? Ada 2 hal yang menjadi manfaat bagi saya. Pertama, saya jadi termotivasi untuk tidak malas bangun sahur karena kudu bangunin orang khan? Kedua, saya dapat pahala karena berbuat baik. Big Smile Big Smile

Duileeee.... mulia bener yeee... Iya dong, khan lagi ngumpuluin tiket ke surga Angel AngelAngel

Tiap kali sahur, saya menelepon teman saya itu. Dan sekarang, ada 3 orang teman lain yang juga minta ditelepon saban sahur. Tapi, saya juga punya syarat. Kalau ditelepon, jangan diangkat. Matiin saja atau biarkan sampe habis.Surprise Saya gak mau kehilangan pulsa huahahaha.... Sukukah yang bicara di sini? Wink

Saya juga beberapa kali dibangunkan sahur oleh teman-teman. Seharusnya saya berterima kasih, karena mereka punya niat bagus. Tapi yang ada, saya justru malah jengkel.Angry Angry

Beberapa hari lalu, saya ditelepon jam 01.20 WIB. Padahal saya baru masuk kamar jam 12 malam. Setelah itu, sulit mata saya terpejam karena takut bablas dan gak kebangun jam 3 sesuai rencana saya. Keesokan harinya, saya SMS teman itu dengan sedikit nada omelan.  

Lain lagi ceritanya tadi pagi. Saya ditelepon jam 02.00 Sedikit jengkel, telepon saya terima dan berkata,"Jam berapa ini?"Hurmph Hurmph

"Ini jam 2, sahur dong. Tahajud dulu, atau tadarus" terdengar suara dari seberang.

"Iya, tapi saya biasa bangun jam 3," jawab saya dengan suara bantal yang kental pastinya.Hurmph

"Jam 3 itu imsak, tau!" suara dari seberang bikin saya melotot Shocked

"......"

Telepon saya gantung. Gak saya teruskan tapi tidak saya matikan. Sebel gak ketulungan. Kenapa ya, dia lupa pake akal dan otaknya? Dia di Jawa Timur, saudara-saudara!Surprise Pastinya Sahur dan Imsak lebih dulu dibandung waktu Jakarta dan sekitarnya.

Pastinya niat teman-teman saya adalah bagus dan baik. Mereka tidak menginginkan saya puasa tanpa sahur. Bukankah sahur itu disunnahkan? Mereka juga mengharapkan saya sempat melakukan ibadah-ibadah lain seperti tahajud, ngaji atau tadarusan. Tapi kenapa sulit berterima kasih ya? Atau tidak perlu berterima kasih?

Sebenarnya, berilah pertolongan atau nasihat pada waktunya. Jika tidak tepat, ya itu tadi. Useless mannnn Shades


Posted at 03:33 pm by sebelas4
Comment (1)  

 
Sep 29, 2006
Marhaban Ya Ramadhan 1427 H

Puasa Ramadhan 1427 H sudah berjalan beberapa hari. Alhamdulillah, masih diberi umur panjang untuk menikmati dan beribadah di bulan penuh berkah ini. Seperti yang dialami sebagian warga Jabotabek, saya juga mengalami hari-hari panas karena September Ceria saat ini hanya sebuah lagu yang tak terbukti kebenarannya Wink

 

Sajadah Wangiku Bikin Pusing Angry

Ramadhan ini saya berniat gak bolong terawehnya. Gak sempat di Mesjid, khan masih bisa sendiri di rumah? Tapi memang lebih enak taraweh di Mesjid. Guna memotivasi diri agar rajin ke Mesjid, saya mempersiapkan baju koko, sarung dan sajadah. Tapi, perlakuan agak khusus saya berikan kepada sajadah hijau yang saya beli seharga 20 real di Medinah. Setelah dicuci beberapa waktu lalu, saya tambahkan minyak wangi yang dulu juga saya beli di Medinah. Jadi, kalau saya sujud, aroma parfum arab akan membawa pikiran saya melayang-layang ketika bersimbah air mata waktu sujud di Raudah, Rumah Rasulullah di dalam Mesjid Nabawi. Tapi itu menurut saya. Berbeda dengan pendapat Fali, ponakan saya. Dia bilang,"Fali pusing. Fali gak suka bau sajadah Inggi." Lha? Shocked Shocked

 

Gorengan dari Surga Angel

Waktu itu, pulang dari kantor sudah jam 5 lewat. Hitung punya hitung, dipastikan bahwa bedug maghrib masih di jalan, masih di atas bis. Jadi, perjalanan pulang dilengkapi dengan sebotol air mineral. Di daerah Slipi, orang-orang sekitar saya terlihat sibuk membuka bekal masing-masing. Maghrib sudah tiba, waktu berbuka datang. Selain air mineral seperti saya, ada beberapa penumpang yang mempunyai bekal lain, yaitu gorengan. Bau semerbak gorengan tercium dalam bis AJA AC no. 138, jurusan Blok M – Cimone itu. Duh, pasti enak banget ya. Perut saya berontak. Ditawarin sih, sama pemuda tanggung yang duduk di sebelah saya. Tapi…. hmmmm…. Hurmph HurmphKenapa ya waktu itu saya gak ngambil?Ternyata, gorengan yang seharga 500 perak itu benar-benar bisa membuat saya gila. Makanan sederhana itu ternyata juga bisa menjadi makanan dari surga pada saat yang benar-benar dibutuhkan.Tongue

 

Marah, Tapi Senyum

Presentasi di tempat klien sebenarnya berjalan kacau, hanya karena team kerja saya tidak melakukan persiapan sebagaimana mestinya. Padahal sehari sebelumnya, bahkan saat sebelum berangkat menuju klien di Bekasi, saya sudah tanya tentang data-data yang nantinya diperlukan waktu presentasi. Tapi, ya gitu deh…… si item keriting nggak terima kalau dia disalahin. Keluarlah kata-kata pedas bak dendeng balado       Angry Angry dari bibir saya," Kalau gak mau terima salah, gak usah terima kerjaan. Ngerti?" Tapi, saya bicara sambil senyum lebar. Manis lah pokoknya hehehe…. Smile Si item keriting pucat, dan saya masuk kamar mandi, wudhu dan sholat. Tenang sekali. Alhamdulillah, setelah sholat, si keriting gak lagi bertingkah. Gak ada kata maaf sih. Tapi biarlah. Yang penting dia tau dia salah dan bersedia merubah kelakuannya. Itu lebih penting.Wink

 

Marhaban Ya Ramadhan

Kadang keinginan hati berbeda dengan kenyataan.

Buka kenyataan yang harus berubah tapi hati kita yang harusnya bisa menerima dan ikhlas.


Posted at 04:42 pm by sebelas4
Comments (4)  

 
Sep 16, 2006
Senyum Pak Mentri
Senin, tanggal 11 September kemaren, jam 6 sore. Saya sudah rapi dengan kemeja batik mahal yang khusus disediakan untuk saya bertugas. Tugas yang bagi saya cukup berat, tapi menyenangkan, yaitu menjadi MC (Pembawa Acara) di konser musik yang bertajuk (eala.... tajuk jek!) "Resonansi - Trisutji Greatest Works".
 
Trisutji adalah seorang Ibu berusia 70 tahun pada bulan November nanti. Beliau komponis dan pianis yang andal yang merupakan asset negara kita karena punya reputasi internasional. Karya-karya beliau dimainkan oleh banyak musisi klasik dunia dan malam itu sebagian dimainkan oleh pianis-pianis yang juga hebat seperti Iswargia S Sudarno, Istia Effendi dan Trisutji Kamal sendiri. Malam itu, juga menampilkan karya Trisutji yang dinyanyikan oleh Chatarina W Leimena (Indonesia Senior Idol) dan soprano berbakat Christine Lubis. Juga ada yang ditarikan oleh Chendra Panatan, yang hari Rabu kemaren berangkat ke London karena mendapatkan beasiswa di bidang koreografi tari.
 
Malam itu, semua persiapan terasa sudah rapih dan sempurna, hingga beberapa menit sebelum acara mulai, tiba-tiba agenda acara berubah. Saya yang sudah siap dengan narasi yang sudah tercatat dan sudah pula dihapalkan, tiba-tiba juga harus sedikit panik karena perubahan ini dan itu. Tapi ok... ok.... hadapi dengan senyuman. Jangan gugup. Berdoa... ayo berdoa lagi....
 
Gong berbunyi, pertanda acara segera dimulai. Lampu ruangan redup, gak ada suara apa-apa lagi. Follow spot sudah mengarah ke  sisi kanan pangung, tempat MC muncul. 1 2 3, GO!
 
Degup jantung tambah kencang, tapi langkah harus tegap dan gagah. Bibir masih melengkungkan senyum, pandangan harus diarahkan ke penonton. Tertangkaplah beberapa wajah, terutama yang duduk di kursi depan. Ada Pak Adjie Gunawan yang serius menatap saya. Mukanya kencang banget dan matanya tajam menatap saya. Dalam hati saya berkata,"Jangan tatap dia. Kalau kamu salah, pasti dia marah besar karena dia inisiator acara. Dia yang keluar duit banyak!" Oke.. oke... segera saya pindahkan pandangan ke sebelah kiri beliau, ada Pak Jero Wacik, Mentri Kebudayaan dan Pariwisata. Beliau senyum melihat saya. Wah, lega dan sejuk rasanya. Lalu saya sekilas melihat Ibu Trisutji juga tersenyum. Deg-degan mereda cepat. Ok... siip.... segera saya mulai.
 
"Yang terhormat, Mentri Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Ir. Jero Wacik SE beseta para pejabat dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata... dst." Sound System yang bagus membuat suara saya juga terdengar baik dan mantap. Saat menyapa itu, pak Mentri mengangguk dan senyumnya menjadi lebih lebar.
 
Cihuy! Berhasil..... Pembukaan yang baik akan menjadi hal yang menentukan dalam menjalankan tugas sebagai MC. Senyum Pak Mentri (dan pengunjung lain tentu saja) menjadi dukungan yang sangat berarti bagi saya kala itu. Senyum yang tulus, pastinya tidak susah. Tetapi sangat berarti bagi orang yang melihatnya.  
 
Ayo tersenyum…..

Posted at 02:21 pm by sebelas4
Comments (2)  

 
Sep 12, 2006
Ketika Kematian Itu Datang
Ada 4 kematian dan berita duka belakangan ini yang bikin saya trenyuh.
 
Yang pertama adalah si kembar Syafitri. Lahir tak sempurna dengan dua kepala tetapi menempel pada bagian dada dan perut. Organ tubuhpun tidak lengkap untuk menjadi 2 individu, bahkan mengalami kelainan jantung sejak lahir caesar di Denpasar Bali. Masih sempat bertahan hidup 10 hari saja, akhirnya, kembar Syafitri menghadap sang khalik. Selamat jalan ananda, semoga kau menerangi jalan ayah dan ibunya menuju surga nanti. Amin
 
Kematian berikutnya adalah Muhammad Ridwansyah. Seorang pemuda gagah dari Mataram. Saya masih bisa mengingat ekspresi wajah Ridwan ketika segerombolan pemuda bertato (baca: preman) menghajar dirinya. Kala itu, terjadi pemberontakan mahasiswa di kampus IKIP Mataram yang menutut proses terpilihnya rektor yang baru. Masalah utamanya tidak terlalu penting bagi saya. Tapi rektor terpilih berlindung di klantornya yang diberi pagar betis berupa pemuda-pemuda bertato, bahkan juga mengacungkan senjata, layaknya preman di jaman jahiliyah. Bentrokan fisik tak dapat dihindari. Sebahagian mahasiswa lari tunggang langgang dikejar preman dengan senjata tajam yang mengacung ke udara. Sebagian preman mengejar dengan sepeda motor. Beberapa mahasiswa lari dan bersembunyi di rumah Ridwan yang tidak jauh dari lingkungan kampus. Dianggap melindungai mahasiswa yang memberontak, preman-preman itu menggelandang Ridwansyah, lalu memukulnya, menendangnya dan bahkan menusukkan senjata tajam ke badan Ridwan di hadapan rekan-rekannya. Jeritan mahasiswi terdengar sangat jelas ketika saya menyaksikan siaran televisi yang berulang-ulang memberitakan peristiwa biadab itu. Ridwan tidak terlihat melawan. Wajahnya tenang, kuat dan tidak menunjukkan bahwa darah telah tercurah dari badannya akibat 3 tusukan. Muhammad Ridwansyah menjadi korban kesewenang-wenangan. Adinda, pergilah dengan tenang. Saya dan teman-temanmu, pasti mendoakan yang terbaik buatmu. Amin.
 
Ketiga, Steve Irwin, sang pemburu buaya, meninggal terkena sabetan ekor beracun ikan pari. Dunia, dan saya pastinya, kehilangan sosok kocak yang seolah tak kenal rasa takut ketika menaklukkan hewan liar. Steve Irwin meninggal dengan cara yang sangat mulia, yaitu ketika melaksanakan tugas dan pekerjaannya. Good bye, mate!
 
Meninggal ketika menjalankan tugas dan pekerjaan konon adalah cara dan waktu meningal yang terbaik. Tapi bagaimana dengan kasus kematian yang ke 4? Beberapa pemulung tertimbun dan tewas ketika tumpukan sampah di TPA Bantargebang Bekasi, runtuh menjelang tengah malam. Hingga pencarian dihentikan, diduga masih banyak korban yang tidak berhasil dievakuasi. Saudara-saudaraku para pemulung yang malang, ketahuilah bahwa mutiara tetaplah mutiara walaupun harus berkubang dan tertimbun sampah. Semoga Allah menempatkan kalian pada tempat yang layak dan melapangkan jalanmu menuju surgaNya. Amin.
 

Posted at 04:36 pm by sebelas4
Comments (4)  

 
Sep 11, 2006
Chrisye & Eros Djarot
Chrisye si penyanyi itu, memang TOP banget dah! Kok saya baru menyadarinya ya? Hahahaha... kemana aja saya? Sejujurnya, saya tidak terlalu menyukai suara mendayu semacam suara Mas Chrisye itu. Apalagi Mas Chrisye kalau nyanyi gak ada ekspresinya... .. Maaf ya Mas Chrisye, saya bukan penggemarmu. Gak apa-apa ya?
 
Dulu, tahun 70an akhir hingga 80an awal, saya suka sama lagu-lagunya Chrisye. Sampai sekarang saya masih suka dengan lagu Merpati Putih, Serasa, Badai Pasti Berlalu, Merepih alam ataupun lagu Baju Pengantin. Tapi, ketika pertengahan 80an, Chrisye mulai menyanyi dengan lagu-lagu yang menurut saya cengeng. Contohnya adalah Pergilah Kasih atau apa lagi ya? Tuh khan, karena gak suka, jadi saya gak hapal hehehhe
 
Tahun 90an Chrisye muncul lagi dengan lagu yang asyik dan video clips yang cantik. Kala Surya Tenggelam, ataupun ..... duh lupa judulnya, tapi ingat video clipnya yang pake topeng-topeng dengan model Vira Yuniar.
 
Dari sedikit lagu yang saya suka, ada beberapa yang berkesan mendalam. Antara lain lagu "Pagi yang cerah, tersenyum di bibir merah sejuta rasa bahagia tlah kuberikan... dst dsb dll sdsb". Saya ingat sangat ketika saya berdiri di tepi danau Singkarak, pagi-pagi, sendirian dan lamat-lamat menyanyikan lagu itu. Kata demi kata saya ucapkan dan tiba-tiba sadar bahwa lagu itu ternyata bercerita tentang malam pertama sepasang kekasih. Suasana danau yang masih berkabut membuat saya menjadi betah dan berkali-kali menyanyikan lagu itu. Saya jadi punya gambaran betapa indahnya malam pertama itu... cieee.... 
 
Satu lagi lagu Chrisye yang membuat saya terhenyak adalah lagu yang dinyanyikan duet dengan Hetty Koes Endang. Jarang yang kenal dengan lagu ini, padahal liriknya juga asyik banget.
"Mengapa kau sendiri, mendekatlah pada ku sayang... tersenyumlah sejenak, agar dunia terang cerah.
Ciptakanlah susana diantara kita... dst... " Enak banget deh...
 
Beberapa hari lalu, ketika saya duduk-duduk sambil ngopi di Plasa Semanggi sama Dimas, saya mendengar lagu itu. Pikiran melayang ketika dulu di Semarang, saya nonton film di bioskop Metro. Ketika film udah selesai, penonton mulai berdiri menuju pintu keluar, dan bioskop itu memutar lagu Chrisye dan Hetty Koes Endang ini. Saya menjadi satu-satunya orang yang tetap duduk hingga bioskop kosong dan saya ditanya sama tukang bersih-bersih, "Kok gak keluar mas?" Jawan saya,"Lagunya enak, Mas." Hehehheh....
 
Kalau dilihat, dulu Chrisye sering kolaborasi (ehm.... ) dengan Eros Djarot dan Jockie Suryoprayogo. Lagunya enak-enak banget.... hampir semua. Tapi, tetap aja Chrisye bukan idola saya. Terlebih lagi ketika tahun 90an Chrisye 'bercerai' dari Eros Djarot dan mulai berselera pasar yang lebih luas ketika memnyanyi untuk lagu-lagu lembut dengan lirik mehek-mehek seperti “Perdilah kasih, kejarlah keiinginanmu… dst dll dsb sdsb.” Sekarang, kolaborasinya sama Ungu, Peter Pan, Dewa…. Aduh…. Maaf…. Gak deh !
 
Tahun 90an juga Eros Djarot ‘ngerjain’ Dian Pramana Putra untuk sebuah album yang semua lagunya saya suka dan hapal.  Eros Djarot juga bikin 1 lagu buat Fryda Lucyana yang liriknya dalam banget,” Rindu ini tlah sekian lama terpendam…. Peluhku bercucuran, menikmati sentuhan…” Duh… jablay, jarang dibelai jek… tariiikkkk !!!!
 
Rupanya saya lebih suka Eros Djarot dari pada Chrisye. Tapi kok sekarang Mas Eros lebih banyak main politik daripada main di musik ya Mas?

Posted at 01:07 pm by sebelas4
Comment (1)  

 
Sep 4, 2006
Body Balance
Udah 1 tahun jadi member di Fitness First Plaza Semanggi tapi baru kemaren saya mencoba ikutan kelas Body Balance. Kenapa bisa begitu? Awalnya saya memang kurang tertarik dengan olahraga yang gerakannya menurut saya kurang dinamis. Di awal keanggotaan, saya pernah mencoba beberapa kelas yang memiliki gerakan lebih energik seperti Body Pump, Body Step dan Body Combat.

Tapi, saya merasa sudah tidak gesit lagi mengikuti gerakan-gerakan yang lincah, cepat dan sangat melelahkan itu. Jadi, saya lebih banyak bermain dengan alat-alat saja, baik yang manual (free weight) ataupun peralatan yang di lantai UG, yang mekanik (eh, apa ya istilahnya?) Yang terpenting adalah keringat mengucur deras dan otot-otot menjadi lebih kencang. Six packs? Hm..... susah jek hehehehe Tongue

Kemaren, hari Minggu, dari pada bengong di rumah, saya ke gym. Selepas ashar, saya turun dari loker pria dan bertemu Didi di dekat tangga. Didi dan beberapa wanita sedang antri mengikuti kelas Body Balance. Entah datang dari mana, pikiran saya langsung tergoda untuk mencoba. "Mumpung ada teman nih," pikir saya dalam hati.

Teng jam 4, kelas Body Balance dimulai. Pesertanya 10 orang, kira-kira. Prianya hanya saya dan Didi. Instrukturnya bernama Linda, dan dibantu oleh Nining. Sebagai peserta yang baru pertama kali mencoba, saya mendapat perhatian khusus dari Linda. Dan sebagai pemula, saya cukup malu hati karena gagal bertahan pada gerakan-gerakan tertentu.

10 menit awal, keringat saya mulai menetes ke matras. Tes..... Lalu saya melirik ke matras Didi dan peserta lainnya. Kering... Shocked Duh, kok saya sudah mulai banjir? Hebat lah..... fat burning bener.... Wink

Kira-kira 45 menit, gerakan demi gerakan meyakinkan saya bahwa Body Balance enak juga. 10 hingga 15 menit terakhir adalah relaksasi. Semua peserta berbaring di matras, mengikuti instruksi Nining yang diiringi lagu-lagu sejenis gregorian. Relaks banget.

Dan hari ini....busyet.... Surprise kok pegel-pegel ya? Walau tanpa lompat, loncat, hentak ataupun sentak., ternyata Body Balance yang gemulai dan halus bisa bikin pegel juga ya? Shocked

So, dont judge the book by its cover. Artinya, jangan anggap enteng hal-hal yang terlihat enteng Smile Smile Smile



Posted at 03:10 pm by sebelas4
Comments (2)  

 
Aug 15, 2006
SIM untuk Pengguna Troli Supermarket
Saya membaca tulisan Samuel Mulia di Kompas Minggu kemaren, tanggal 13 Agustus 2006. Dia bercerita tentang kejadian di sebuah ruang tunggu dokter, dimana Samuel terpaksa harus berdiri padahal ada sebuah kursi kosong yang digunakan oleh seorang perempuan untuk meletakkan tas plastik. Saat itu, Samuel merasa dirinya punya status yang sama dengan tas plastik itu. Cuma seonggok barang.

Pernah gak sih, mengalami hal demikian? Saya sering sekali. Kemaren saja, saya mengalami berkali-kali. Mungkin karena terlalu sensitif. Atau bisa jadi terpengaruh dari kolom favorite saya itu sehingga jadi kepikiran ke sana terus.

Pertama, waktu melintasi jembatan busway di Benhil. Segerombolan anak muda, bercengkerama, seru sekali, di lintasan yang tidak begitu lebar itu. Mereka ber 6
atau ber 7 orang, berjalan 3 lapisan. Lapisan pertama, yang di belakang saya lewati dengan baik. Lintasan ke dua, kaki panjang saya melangkah lebih pelan karena terhambat oleh mereka.

"Oii, oiii.... ada yang mau lewat oi...," teriak barisan belakang kepada teman-temannya yang di depan. Lapisan kedua bergeser dan saya bisa mendahului
mereka. Tapi lapisan paling depan... waduh... Cukup lama saya berjalan pelan di belakang mereka, tp mereka gak nyadar juga bahwa ada orang yang mau mendahului. Mereka malah dorong-dorongan yang menurut saya stupid
banget di jalan sempit begitu. Untung saya gak ikutan terdorong.

"Permisi," ujar saya sedikit sewot. Tanpa suara, tanpa babibu, tanpa rasa bersalah, mereka membuka jalan buat saya.

Kejadian lebih kurang sama juga terjadi semalam, waktu belanja di Hypermart, Lippo Karawaci. Begitu banyak manusia mendorong trolley (troli) di lorong-lorong
sempit itu sehingga kaki panjang saya mengalami kesulitan juga untuk meneruskan belanja yang emang buru-buru. Yang bikin sebel adalah troli-troli tak bertuan, yang teronggok di tengah jalan sempit itu. Mungkin si pemilik sedang memilih barang ditempat lain, atau membandingkan harga, atau cari kardus barang yang tak penyok atau bisa saja sedang ke toilet. Tapi mbok ya mikir dikit, bahwa yang dia
lakukan justru merepotkan orang lain.

Tidak selamanya troli tak berpenghuni yang menganggu saya. Terkadang troli dengan pendorongnya, entah ibu, bapak, pembantu atau anak-anak yang sedang main, menjadi penyebab kejengkelan saya. Berhenti di tengah jalan, mendadak atau bahkan bercanda tanpa menghiraukan orang di belakangnya. Mungkin perlu pelatihan khusus sebelummendorong troli di supermarket. Atau mungkin perlu SIM juga, seperti pengemudi di jalan raya.

Saya cuma bisa jengkel bin sebel? Mau apa lagi, coba.... ? Urut dada? Menelan ludah? Tetap tak bisa memperbaiki kelakuan orang-orang yang telah menghambat
perjalanan saya.

Untung ingat pesan Aa Gym. Jika mau berubah, mulailah dari diri sendiri. dari sebuah kejengkelan, lahir sebuah pelajaran bahwa saya harus bisa lebih baik dari
mereka-mereka itu.
 
Jika orang lain kita beri kemudahan, maka kemudahan juga yang akan kita tuai. Tapi jika kita menghambat rejeki orang lain, menghambat jalan orang lain, maka rejeki kita pun akan tak lancar. Amin. 

Posted at 04:05 pm by sebelas4
Comments (5)  

 
Aug 8, 2006
Upacara Bendera
Saya yakin seyakin-yakinnya, semua yang pernah sekolah, pernah mengikuti upacara bendera. Suka atau tidak suka, setiap siswa diharuskan berbaris setiap Senin, menghadap tiang bendera. Bahkan, ada juga yang Senin upacara penaikan bendera, Sabtu upacara lagi, penurunan bendera ....ck ck ck......  Perlu banget ya?
 
SD, SMP, SMA bahkan sampai kuliah, saya sering kebagian jadi petugas upacara bendera. Tentu saja bukan sekedar peserta upacara, tetapi pernah bertugas sebagai pengibar bendera, komandan upacara, protokol yang membacakan susunan acara, bacain Pancasila atau Pembukaan UUD 45, bahkan juga memimpin lagu.
 
Yang paling seru adalah waktu kelas 3 IPA 4 di SMA Negeri 2 Padang. Waktu itu kelas kami kebagian menjadi kelas yang bertugas melaksanakan upacara hari Senin. Hari Sabtu sebelum Senin itu, kami berlatih dengan serius. Petugas-petugas sudah ditunjuk dan saya waktu itu tidak bertugas. Tetapi, Sandra Mahyeni yang bertugas memimpin lagu  (dirigen, begitu istilahnya) meminta saya yang melatih teman-teman di hari Sabtu itu. "Hari Senin, Yeni yang mimpin," janjinya.
 
Ok deh.... saya melatih teman-teman sekelas agar kompak menyanyikan lagu Indonesia Raya saat menaikkan bendera, latihan juga lagu pengiring mengheningkan cipta serta 1 lagu wajib, yang waktu itu kami sepakat memilih lagu "Hari Merdeka" ciptaan H Mutahar. Latihan itu beres dan berjalan dengan baik.
 
Hari Senin tiba. Ndilalah.... malang tak dapat diraih. Mujurpun tak dapat ditolak. Sandra Mahyeni, yang bertugas memimpin lagu, tidak datang. Mau tidak mau, suka tidak suka, senang tidak senang, saya harus ambil alih menjadi pemimpin lagu. Dan itu untuk pertama kalinya di sekolah kami seorang dirigen adalah laki-laki.
 
Lagu pertama, Indonesia Raya, berjalan lancar. Lagu kedua yang liriknya "Dengan seluruh angkasa raya memuji, pahlawan negara... dst dsb dll sdsb", juga berjalan dengan selamat dan syahdu mengiringi suasana hening saat mengheningkan cipta. Giliran lagu ketiga, lagu yang patriotik, kelas kami 3 IPA 4, menyanyi dengan sangat kompak dan penuh semangat.
 
Tapi, apa yang terjadi setelah lagu itu selesai?
 
                  Kita tetap setia, tetap sedia mempertahankan Indonesia
                  Kita tetap setia, tetap sedia membela negara kita.
 
Tiba-tiba, lapangan upacara di SMA Negeri 2 Padang gemuruh dengan tepuk tangan dan sorak sorai, pertanda peserta upacara suka dengan lagu yang kami bawakan.
 
Dan seperti lazimnya pertunjukan musik yang ditonton oleh mayoritas orang Padang, maka bergema pula suara "Tambuah ciek... tambuah ciek... tambuah ciek..."
 
Onde mande.....

Posted at 08:30 pm by sebelas4
Comments (4)  

Next Page