|
|
 |
Udah seminggu ini saya sering pakai cincin. Cincin sederhana, bukan emas, bukan pula perak. Tapi modelnya bagus. Simple, dengan sedikit ornamen yang gak aneh-aneh. Cincin ini adalah pemberian teman saya, Rindra.
Ketika memakai cincin ini, pikiran saya jadi teringat pada jaman kuliah dulu. Mata kuliahnya Komunikasi Sosial. Yang ngajar Pak Luthfi. Kuliahnya gak enak, karena suara dosennya pelan banget. Tapi ada 1 hal yang paling berkesan, yaitu ketika Pak Luthfi menugaskan kami untuk mencari benda yang akan menjadi 'icon' kami masing-masing.Waktu diberikan cuma 5 menit. Maka, berhamburanlah rekan-rekan kuliah saya ke luar ruangan untuk mencari benda-benda yang dianggap mampu menjadi mewakili mereka masing-masing.
Ada yang membawa daun, karena dia menganggap dirinya suka melindungi, suka membuat orang merasa lebih segar karena oksigen yang dihasilkan daun. Yang terpenting, daun itu hijau dan hijan itu Islam. Hm.... boleh-boleh.... secara yang bicara itu adalah teman saya yang berwajah kalem, berjenggot tak berkumis dan bercelana panjang yang kurang panjang karena stop di atas mata kaki.
Lalu... bagaimana dengan saya? Saya beranalogi bahwa cincin adalah diri saya. Selalu terlihat menarik, karena dibuat dari bahan yang baik, berbatu ataupun tidak,. PD alias Percaya Diri yang tinggi karena, walaupun kecil, tapi sering menjadi perlambang status. Ornamen yang cantik dan indah pada cincin juga menjadi ciri bagi saya untuk berusaha selalu terlihat menarik.
Terus, setelah mengingat-ingat apa saja yang ditemukan oleh teman-teman, saya berpikir juga, apa hubungannya dengan mata kuliah Pak Luthfi ya? Gak nemu tuh, jawabannya. Mata kuliah Komunikasi Sosial memang tidak menarik. Entah lah, sekarang saya juga ragu, apa bener mata kuliah itu berjudul "Komunikasi Sosial"?
Gak penting ya.... hehehhe
Posted at 05:55 pm by sebelas4
Permalink
Cium cium cium.... Bibir!!!
Hari Minggu yang lalu, 30 Juli 2006, saya mendapat kesempatan mendongeng di Hero Ciputat, dalam rangka Ulang Tahun Hero ke 35. Karena yang ngajak saya adalah Disney Magazine (terbitan Gramedia), jadi saya harus bercerita tentang tokoh-tokoh Disney. Yang saya pilih waktu itu adalah cerita tentang Snow White Princess alias Putri Salju, yang makan apel beracun sehingga tertidur di tengah hutan, ditemani 7 kurcaci.
Waktu mendongeng, saya berperan sebagai Pangeran (lengkap dengan jubah dan mahkota. Keren ....hehehhe) yang sedang mencari belahan jiwanya. Singkat cerita, Sang Pangeran tiba di hutan tempat Putri Salju terbaring, tidur. Lalu, bagaimana membangunkan Putri Salju dari tidurnya? Dinyanyiin sudah, disentuhpun sudah. Pangeran lalu bertanya pada penonton acara itu (lebih kurang 50an anak dan 30 orang dewasa), apa yang harus dilakukan.
Sebagaimana layaknya waktu mendongeng, anak-anak lebih antusias kalau menjawab pertanyaan dari saya. Mereka menjawab,"Cium cium cium........"
Duh, entah mereka sudah tahu jalan ceritanya, entah mereka menganggap bahwa cium atau berciuman adalah hal biasa... entahlah...
Seterusnya, sampailah pada adegan ciuman itu, seperti yang diminta oleh penonton anak-anak. Pastinya, tidak ada pemeran Putri Salju. Hanya adegan bohongan saja. Tapi ekspresi dan gerakan seolah-olah Putri itu ada. Lalu, ada dialog seperti ini, lebih kurang :
"Ketika wajahku dan wajah Putri Salju sudah sangat dekat.... Adik-adik, apanya yang dicium? Keningnya, pipinya, matanya, hidungnya atau....." (Pangeran bingung mode on)
Kembali, jawaban serempak dari anak-anak itu..... bibirnya!!!!
Duh, anake sopo iki. Padahal sebagian dari yang teriak-teriak itu menggunakan seragam sekolah Taman Kanak-kanak. Salah kan sinteron, ujar saya dalam hati.
Dan ketika adegan cium bibir itu dilaksanakan, beberapa anak menutup mata mereka, malu-malu.
Sukses!!!!
Posted at 09:10 pm by sebelas4
Permalink
Berbagai Cara Menghibur Hati
Tadi pagi, selagi di kamar mandi, saya mendengarkan siaran radio. Kurang jelas siapa yang diinterview, sepertinya seorang motivator. Saya juga kurang menyimak apa yang disampaikan karena, selain sedang ada di kamar mandi, imajinasi saya langsung menari-nari ke alam pikiran saya sendiri. Yang saya tangkap, intinya adalah "do something different". Kalau hidup mulai merasa monoton, jenuh dan gak ngerti mau ngapain, coba lakukan sesuatu yang berbeda dan gak umum. Hidup akan terasa lebih hidup.
Saya teringat waktu saya sedang 'nelongso', lalu berkenalan dan bercerita banyak dengan orang Portugal di dunia maya. Dia menyarankan saya merubah penampilan. Berdasarkan foto-foto yang saya kirim, dia bilang penampilan saya membosankan. Dia menyuruh saya ganti model dan warna rambut. Lalu cara berpakaian juga suruh ganti. Ide -ide itu sempat jadi pertimbangan saya. Tapi saya hanya melalukan sedikit perubahan pada cara berpakaian. Kalau sebelumnya kemeja kantor cenderung polos dan berwarna lembut, maka sejak ide teman Portugal itu isi lemari mulai ada kemeja garis-garis, warna yang lebih solid dan potongan kemeja yang lebih trendy.
Ternyata, perubahan penampilan itu membawa perubahan juga pada sikap diri sendiri serta perlakuan dari orang lain. Sukses juga saya menghibur diri sendiri dan menghindar dari perasaan 'nelongso' itu walau sejujurnya saya gak bisa mengelak dari masalah yang sesungguhnya.
Lalu, saya juga teringat dengan teman yang tiba-tiba bisa menghilang dan terbang tak tahu juntrung. Bisa saja dia ke Bali 2 hari, lalu ke Bandung. Bahkan, suatu ketika, dia naik kereta api ke Bogor. Semua dilakukan tanpa rencana. Dia melakukan itu kalau dia sedang bosan dan pengen menghibur diri. Sukseskah caranya? Menurut dia, iya. Tapi saya belum mencoba.
Karena mendengar radio dari kamar mandi, saya kurang menyimak dengan baik siaran tadi pagi itu. Tapi ada juga saran yang disampaikan agar hidup lebih hidup, yaitu peliharalah binatang. Yup, saya juga pernah melakukannya. Waktu itu punya 4 ekor ikan. Cuma mati semua. Sejak itu, saya kapok pelihara binatang. Memelihara tanaman mungkin sejenis dengan ide itu. Saya sudah mulai melakukannya dan saya menikmatinya. Terhibur juga melihat ada tunas atau putik baru yang segera merekah. Seolah "satu nyawa terselamatkan".... hehehhe
Akhir minggu yang lalu, saya dapat SMS dari teman yang bilang dia sedang hampa. Hatinya kosong. Pengen ngobrol nih, katanya. Saya angkat telepon dan mulailah dia berkeluh kesah : "Kerjaan begitu-begitu aja. Pacar sedang gak ada. Jadi kalau weekend, suka bete. Tidur terus, malah bikin lemes. Kalau pergi-pergi, ngabisin duit." "Ksian deh loe", gurau saya, tapi bermakna sesungguhnya. "Makanya gue telepon elo. Biar bisa ketawa-ketawa," lanjutnya ngakak. "Busyet. Gue bukan Doyok!!!!" umpat saya dalam hati.
Ya sudah, berceritalah dan bergembiralah. Semoga semua teman-teman saya juga akan selalu gembira. Amin.
Posted at 12:02 pm by sebelas4
Permalink
Ketika selinting berita datang Menjadikan dugaan yang entah benar entah tidak Menjadikan malam terasa terlambat datang Khawatir.........Cemas........ Berlebihan
Seharusnya,
Ketika cinta terpaut dan hati berlabuh
Hidup menjadi lebih indah
Bukan sebaliknya
Selayaknya, Bibir bergerak mengucap dzikir Sajadah terbentang lebih lama Astaghafirullah Hal Adzim
Ya Allah,
Bukakan hatinya dan terangi pikirannya
Posted at 12:14 pm by sebelas4
Permalink
Kaum Wanita.... Hormaaaatttttt, Grak!
Tadi pagi, di dalam mobil menuju ke kantor, saya berbincang-bincang dengan adik saya, Rika dan suaminya, Budi. Kita bicara tentang demam World Cup 2006. Kami bertiga tidak terlalu maniak nonton bola. Kalau masih main jam 10 malam, masih dijabanin lah. Tapi yang jam 2 dini hari, hm..... Lebih baik tidur daripada ngantuk di kantor . Tapi ternyata, ada teman kantor Budi yang bela-belain ke cafe nonton bareng partai perempat final Brazil lawan Prancis. Alasannya meninggal istri dan anak adalah kalau di cafe seru, rame, bebas teriak dan.... banyak cewek-ceweknya.
Saya jadi ingat liputan di TV tentang nonton bareng itu. Tengah malam, di sebuah pusat perbelanjaan Mangga Dua, banyak orang-orang menggunakan kaos team favorite mereka. Sementara itu, cecwek-ceweknya pake baju seksi, tali 1 dan belahan leher yang rendah, mempertontonkan sebongkah daging mulus dan ranum... (halah... eni arrow banget!!!)
Kok gitu ya? Bukankah kalau malam hari itu dingin? Sebaiknya gunakan jaket, baju hangat, sweater atau apalah supaya gak masuk angin. Analisa sementara adalah bahwa di Jerman, kaum hawa juga nonton bola. Waktu Inggris lawan Jerman, sempat disorot Victoria Beckham dengan bajunya yang simple dan sexy. Terus, banyak juga pendukung-pendukung team (terutama Brazil) yang tampil seronok, bahkan hanya dengan kutang dan celana dalam mini saja. Jadi, wajar aja kalau penonton di Indonesia (Jakarta khususnya) juga tampil seronok. 
Tapi, di Jerman khan tanding bolanya siang. Kalau mereka pakai bikini, ya sekalian berjemur lah. Harusnya, cewek-cewek Jakarta yang nonton bola itu dikenakan UU atau Perda Kodya Tangerang saja. Tali 1 = PSK.
Atau bertemu dengan Kak Rhoma saja, biar dikuliahi RUU APP. Eh, ntar malah dikawin.... gak apa-apa kalau dikawin. Siapa tau anaknya cakep, bisa main sinteron.... alah... kok kaya ucapan Wapres JK ya? Urgh.... 
Hai wanita, hormatilah dirimu supaya kau bisa dapat tempat terhormat di mata pria. Sekian dan terima kasih.
Posted at 02:03 pm by sebelas4
Permalink
Susu, urutan ke 5 (bukan Pertama)
Hari Minggu lalu, tanggal 2 Juli 2006, saya dapat kesempatan luar biasa. Bertempat di Hall B JHCC, diadakan Bobo Fair 2006. Acara yang luar biasa dari majalah anak-anak terbaik di tempat acara yang juga terbaik, saya berkesempatan mendongeng. Tentu saja saya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Walau demikian, tetap aja deg-degan ditonton ratusan pasang mata , bahkan juga (kaca) mata Kak Seto. 
Alhamdulillah, saya naik panggung dengan enteng dan turun pun dengan enteng. Sepanjang dongeng tentang "Anjing Bintik dan Kuda Hitam" berlangsung, penonton, terutama anak-anak dan ibu-ibu, terlihat antusias dan senang. Bahkan, diantara kerumunan orang-orang selesai acara, banyak yang minta kartu nama. Wuih..... seneng banget rasanya. (Untungnya, gak ada yang teriak Doyookkkkk hehehhe... ) 
Tapi, bukan perkara narcis dan GR itu yang mau saya bahas di sini. Sewaktu di JHCC berhamburan selebaran dibagikan. Ada 1 yang menarik perhatian saya, yaitu selebaran produk susu untuk anak. Ada banyak tulisan serta gambar yang nyata-nyata menjelaskan bahwa segelas susu tersebut dapat menggantikan sepiring nasi. Tagline atau slogan nya kira-kira begini : Susu untuk anak yang susah makan. Lalu ada gambar segelas susu, tanda "=" (sama dengan) dan sepiring nasi, dengan potongan telur rebus, ayam goreng dan sayur. (Gambar menyusul deh. Saya scan, ASAP)
Walah.... saya bukan ahli gizi. Tapi secara akal sehat saja , mana mungkin segelas susu dapat menggantikan sepiring nasi? Kemana kebutuhan karbohidrat seorang anak yang seharusnya dapat dari nasi? Lalu proteinnya tercukupkan gak? Vitamin dan mineral bagaimana pula ceritanya? Saya teringat lagu jaman saya TK dulu. Begini lagunya :
Makanan pokok beras sagu jagung. Sayur sayuran bayam dan kangkung. Buah-buahan jeruk limau pisang. Ditambah daging telur dan ikan. Empat sehat dan lima sempurna.
Nah, sejak TK saya diajarkan bahwa susu itu untuk penyempurna. Setelah makan makanan yang 4, maka badan akan sehat. Tetapi apabila ditambah susu, menjadi 5 sempurna. Tapi sekarang kok ya ada produk yang bilang bahwa segelas susu dapat menggantikan sepiring nasi? Saya yang bodoh dan tertinggal pengetahuannya atau poduser susu itu yang akal-akalan? 
Aduh... keterlaluan banget rasanya apabila masyarakat dibohongi. Udah gitu, sebagai orang yang kerja dibidang komunikasi (iklan, red), saya bertambah heran kalau ada agency yang mau membodohi masyarakat. Kemana moral orang-orangnya? Huh.... marah betul rasanya. Mau ngadu kemana ya? Sementara mau nulis di blog aja dulu.
Trus, hubungan sama dongeng di Bobo Fair apa ya? Gak ada, saudara-saudara.... Mungkin segera saya akan bikin dongeng tentang manfaat susu sebagai 5 sempurna itu, bukan sebagai ganti nasi. Mudah2an bisa memberi pengetahuan yang lebih baik dan benar bagi masyarakat. Amin. Doain yeee Bang, Mpok, Tjang, Tjing, Nyak, Babe..... (Omas mode on) 
Posted at 12:40 pm by sebelas4
Permalink
Bahagia di Balik Bencana (?)
Pastinya, banyak yang gembira kalau weekend tiba. Malah ada yang sudah mulai ber-weekend sejak Jumat sore. Pulang kantor langsung jalan. Bisa kemana saja. ke mall, cafe, nonton, karaoke atau sekedar kumpul-kumpul bareng teman dan saudara. Wah, menyenangkan sekali.
Jumat lalu, setelah sholat Jumat, saya berangkat menuju ke undangan pernikahan teman baik saya, Rindra. Acara diadakan di rumah keluarga istrinya, di Depok. Sebelumnya, saya jemput Doddy dulu di JHCC karena Doddy dapat job di NovaFair 2006. Ternyata, setelah ketemu Doddy, kami harus ketemu dulu dengan Sri karena Sri juga ingin bareng ke Depok. Di sinilah awal bencana itu :)
Jumat itu, Jakarta panas terik dan saya membiarkan perut kosong karena berpikir khan bisa diisi di tempat nikahan nanti. Sampai di Depok, sudah jam 4. Langsung makan dong... Rupanya, badan saya protes keras tanpa malu-malu. Sri sempat tanya kepada saya," Mas, kok pucat mukanya? Matanya merah tuh." "Iya Sri, ngantuk," jawab saya simple dan berharap Sri gak nanya-nanya lagi.
Tapi dasar wanita bawel (hehehe, maaf ya Jeng), Sri terus nanya ini itu dan ujung-ujungnya saya harus ngaku bahwa saya masuk angin, parah.
Saya gak mau Sri repot atau teman-teman lain jadi tau kalau saya gak enak badan. Saya juga gak mau dong, acara orang jadi berubah karena saya sakit (duh... GR banget yak!) Untungnya, keceriaan jalan terus. Haha hihi huhu uhuy tetap jalan sebagaimana layaknya pesta yang meriah. Cuma, saya saja yang sudah mulai diam, gak lagi menimpali dengan becandaan garing yang sering jadi andalan. Siang atau sore itu, saya lebih banyak diam dan senyum-senyum saja. Termasuk waktu foto-foto, saya tetap diam dan senyum . (cihuyyy...andalan)
Karena yang menikah adalah teman baik kami, maka cukup lama juga saya dan teman-teman di sana. Tambah malam, teman yang datang bertambah juga. Adi, Jeffry, ada Andi juga trus Bayu dan istri (plus Tiara yang cantik, anak mereka) juga datang menjelang maghrib. Sementara kepala saya sudah gak tahan. Obat udah diminum. Teh manis panas udah 2 gelas (Sri, makasih ya. Sampe ngerebus air sendiri ya? hehehe). Obat satu-satunya adalah T.I.D.U.R ..... Biasanya begitu yang saya lakukan.
Tapi mau tidur dimana? Rumahnya Putri (istrinya Rindra) pastinya tidak punya kamar kosong lagi. Ya sudah, tidur duduk saja.... tapi mana mungkin bisa tidur, sementara teman-teman masih cekikikan dengan banyak cerita-cerita lucu karena acara nikahan itu sekaligus jadi ajang reuni mereka. Saya pun juga pengen terlibat dan terhibur sebenarnya.
Finally, saya pinjam pahanya Andi (cukup besar soalnya hehehe), saya rebahan di sana, lalu selonjor dengan menyusun 4 kursi untuk kaki saya yang panjang ini. 30 menit saya tertidur, setelah diusap pake minyak kayu putih pada perut dan dada. Wah..... rasanya sorga begitu dekat saat itu... enak dan nyaman sekali rasanya. Badan jadi enteng dan hati jadi senang.
Tentu saja, senang karena saya punya teman-teman yang baik, care dan sayang sama saya. Friends, terima kasih ya. Sri, Doddy, Andi, Adi, Jefrry, Bayu+Istri+Tiara, senang sekali bisa menjadi bagian persahabatan ini.
Untuk Rindra dan Putri, maaf kalau sempat melukis sedikit warna abu-abu di pesta kalian. Semoga kalian bahagia dan bisa menjadi keluarga yang sakinah. Amin.
Ya Allah, terima kasih juga telah mempertemukan kami melalui cara-cara yang tak biasa. Alhamdulillah wa syukurillah.
Posted at 01:57 pm by sebelas4
Permalink
Indonesian Idol di RCTI kembali digelar. Kaya'nya lebih seru daripada seri 2 yang memunculkan Mike dan Yudika sebagai Juara dan Runner Up. AFI di Indosiar juga sudah masuk session ke...  (hm, maaf.... kurang berminat, jadi gak 'ngeh'). TPI dengan KDI juga sedang semarak. Lalu lomba-lomba lain juga hampir selalu ada di setiap Stasiun TV. Kegiatan lomba melomba (halah) mengingatkan saya yang waktu dulu sering ikut lomba sana sini. Senam Kesegaran Jasmani (SKJ), Fashion Show  (ampunnnn...), Cerdas Cermat (atau Cepat tepat ya? Atau Cerdas Tangkas? Pokoknya gitu deh...) dan sebagainya. Semuanya mewakili sekolah. Paling sering adalah Singing Contest. Pertama kali ikutan waktu SMP. Itu masih di acara sekolah. Hasilnya, cuma dapat tepuk tangan alias kalah. Waktu SMA, mulai lebih berani ikut secara pribadi. Waktu itu Pemilihan Bintang Radio dan Televisi Remaja tingkat Propinsi Sumatera Barat (tahun sekian... jrennnkkkk.....  RHS). Hasilnya lumayan, masuk 5 besar alias finalis. Sejak ikutan PBRTV itulah, keberanian tampil di depan umum semakin terpupuk dan terbiasa. Pastinya, begitu juga yang dialami oleh peserta Indonesian Idol, AFI, KDI dan semacamnya itu. Ala bisa karena biasa, itu pepatahnya.Tantangan waktu tampil di depan umum tidak hanya dari diri sendiri yang menuntut untuk tampil sempurna supaya menang, juga dari dewan juri yang kadang-kadang bersikap galak dan kasar. Duh.... pernah suatu kali, ketika lomba menyanyi, dewan juri duduk di barisan paling depan. Konon katanya, kalau lomba, sesekali lihatlah ke dewan juri sebagai bentuk 'penghargaan' karena dia yang menilai kita nyanyi. Nah, waktu itu kulayangkan pandangan dan tersenyum manis ke juri wanita yang tiba-tiba dia cemberut sambil geleng-geleng kepala. Apaan nih maksudnya?   Mengganggu konsentrasi sekali sikapnya. Gak sopan, gak membangun.... tampar... halah! hehehhe... Tapi justru sikap begitu yang membuat saya harus siap dalam kondisi apapun. Pernah juga, di Semarang. Lagi-lagi Pemilihan Bintang Radio dan Televisi, tapi tingkat dewasa dong  . Tampil meyakinkan, dengan baju terbaik, rambut rapi dan kumis pun sudah terbentang indah. (eh, dulu saya punya kumis.... ). Entah dari mana datangnya, segerombolan penonton tiba-tiba berbuat ulah. Mungkin mereka menganggap saya tampil bagus sehingga mengancam sodara atau teman mereka yang juga ikutan. Entahlah. Dari arah penonton, tiba-tiba saja ada yang berteriak..... " DOYOOOOKKKKK....." Alamak.... apa benar mukaku mirip Doyok? Parah dong.... Mas Sudarmadji, nyuwun ngapunten  Tapi, untunglah diri ini sudah siap dengan segala cobaan dan rintangan. Nyanyi jalan terus dan hasilnya..... ....... Anda tidak lolos ke babak selanjutnya...  Ya gitu deh.... jika seseorang ingin menjatuhkan kita, jangan bersikap seperti apa yang dia mau. Tenanglah, dan jalan lah terus kalau memang diri kita sudah benar. Still do your best... cieee.... mantap yah? Itu pelajaran yang saya ambil dari ikutan berbagai lomba. Tapi, apa bener saya mirip Doyok ya?
Posted at 04:04 pm by sebelas4
Permalink
Ini adalah lanjutan dari cerita tentang koin yang gak habis-habis itu.
Ternyata, emang kalau rejeki gak akan kemana.
Seorang teman bernama Rindra bercerita bahwa ada rekan kerjanya mau
menikah. Sebagai kado pernikahan, direncanakan untuk memberikan sebuah
vas bunga kaca bening yang diisi dengan koin, lalu ditutup mati dan
dilengkapi dengan tulisan "Dilarang dibuka kecuali darurat".
Lalu terjadilah dialog sebagai berikut :
R1 : Trus, mau cari koin dimana?
R2 : Nuker di Bank kali ya? Atau diterminal?
R1 : Aku punya tuh, banyak. Kalau mau, pake aja
R2 : Emang berapa jumlahnya?
R1 : Banyak lah. Itung aja, ntar ganti sejumlah koin yang kekumpul
R2 : Ok deh. Kapan mau diserahin? Atau bisa dianter gak?
Siiippp..... sekarang koin itu sudah ludes.
Senang rasanya ketika sebuah ke-iseng-an mendatangkan manfaat dan membahagiakan orang lain.
Posted at 02:51 pm by sebelas4
Permalink
Cring Cring Criiinnnggg.... Ayo Kumpulin Koin
Saya termasuk orang yang tidak suka menyimpan koin atau uang logam di kantong, baik kantong celana maupun baju. Gak nyaman aja. Selain berat, juga suka berbunyi kencring kencring kalau jalan. Jadi, setiap ada koin, selalu saya tinggal di rumah dan tidak pernah dibawa lagi. Dulu, ketika angkutan umum (Metromini dan Kopaja) masih Rp.1200 atau ketika bis Patas AC masih Rp.3300,- maka sering sekali saya mendapat koin sebagai uang kembalian. Koin juga sering didapat kalau belanja di warung atau di supermarket (walau kadang diganti permen. Sebel!) Koin-koin kembalian dari kendaraan wajib itu saya simpan dalam sebuah toples (aslinya sih buat kue). Eh ternyata segera penuh sehingga saya beli 1 buah toples lagi. Lalu, toples yang sudah penuh saya kosongkan dan mulai menghitung ebrapa jumlah uang yang terkumpul. Awalnya, dipisahin dulu dengan sesama jenis dan ukurannya. Koin Rp.50, Rp.100, Rp.200, Rp.500 dan Rp.1000. Hitung punya hitung, ternyata banyak juga uang yang trekumpul, sekitar Rp.200.000 lebih. Lalu, uang-uang itu disimpan dalam plastik obat yang beli di pasar Benhil. Maksud hati, kalau belanja atau makan di warung, bayarnya pakai koin saja. Tapi ternyata saya sering kelupaan bawa koin-koin itu.  Suatu hari, bensin naik. Koin-koin sebagai kembalian angkutan umum mulai jarang saya dapat. Naik angkutan umum sih tetap (mobil saya di show room terus euy... hehehe.... Siapa nanya?) tapi tarif angkutan sudah 'membulat' ke atas menjadi Rp.2000 atau Rp.5000. Sesekali masih dapat kembalian Rp.500 alias gopek kalau naik bis Patas Non AC. Ketika suatu sore pulang dari kantor (masih di Tebet waktu itu), kenek bis kesulitan mendapatkan uang logam Rp.500 an untuk kembalian penumpang. Kebetulan saya membawa 1 kantong plastik koin gopek-an. Akhirnya bisa barter dengan uang kertas yang lebih praktis bisa disimpan di kantong. Besoknya, saya naik Pas Non AC lagi, dengan harapan keneknya mau barbter lagi. Dalam tas sudah ada 4 kantong plastik gopek-an dengan jumlah total Rp.80.000,- Lumayan dong? Pas giliran kenek menghanmpiri saya untuk narik ongkos, saya keluarkan koin saya. "Bang mau tuker gak?" kata saya bangga, setengah berharap bakal bisa membantu. Tapi jawaban si kenek justru bikin saya tengsin beratz. Katanya,"Wah saya sudah punya banyak." Hm, gondok deh..... Dikira saya calo koin kali ya? Dibantuin kok gak mau. Kalau gak butuh sekarang, khan bisa dipakai buat besok. Awas kamu, besok aku ogah bawa-bawa koin lagi... huh! Ngomel sepanjang jalan jadinya :) Dan benar, besoknya saya gak mau bawa koin lagi. Berat dan ogah disepelein lagi hehehe.... One day, ketika masih kost di Komando, saya belanja ke warung. Beli teh botol favorite saya dan beberapa cemilan. Saya ditinggal cukup lama oleh si Ibu Warung karena dia kesulitan mencari kembalian buat saya yang berjumlah 300 perak saja. Akhirnya saya tawarin si Ibu Warung untuk barter koin dengan saya. Awalnya dia girang. Tapi setelah melihat bahwa saya membawa beberapa kantong plastik, si Ibu Warung langsung berubah air mukanya. "Jangan banyak-banyak. Saya cuma perlu 5000 saja." Itu artinya cuma 1 kantong koin Rp.100 saja. Hmmmm....... kapan habisnya tuh koin ya? Ketika memutuskan pindah rumah, kembali ke rumah lama, mau tidak mau plastik-plastik berisi koin itu plus toples ikut diboyong ke Karawaci. Tapi yang namanya rejeki emang gak akan kemana. 
Posted at 07:01 pm by sebelas4
Permalink
|