Puasa Ramadhan 1427 H sudah berjalan beberapa hari. Alhamdulillah, masih diberi umur panjang untuk menikmati dan beribadah di bulan penuh berkah ini. Seperti yang dialami sebagian warga Jabotabek, saya juga mengalami hari-hari panas karena September Ceria saat ini hanya sebuah lagu yang tak terbukti kebenarannya 
Sajadah Wangiku Bikin Pusing 
Ramadhan ini saya berniat gak bolong terawehnya. Gak sempat di Mesjid, khan masih bisa sendiri di rumah? Tapi memang lebih enak taraweh di Mesjid. Guna memotivasi diri agar rajin ke Mesjid, saya mempersiapkan baju koko, sarung dan sajadah. Tapi, perlakuan agak khusus saya berikan kepada sajadah hijau yang saya beli seharga 20 real di Medinah. Setelah dicuci beberapa waktu lalu, saya tambahkan minyak wangi yang dulu juga saya beli di Medinah. Jadi, kalau saya sujud, aroma parfum arab akan membawa pikiran saya melayang-layang ketika bersimbah air mata waktu sujud di Raudah, Rumah Rasulullah di dalam Mesjid Nabawi. Tapi itu menurut saya. Berbeda dengan pendapat Fali, ponakan saya. Dia bilang,"Fali pusing. Fali gak suka bau sajadah Inggi." Lha?

Gorengan dari Surga 
Waktu itu, pulang dari kantor sudah jam 5 lewat. Hitung punya hitung, dipastikan bahwa bedug maghrib masih di jalan, masih di atas bis. Jadi, perjalanan pulang dilengkapi dengan sebotol air mineral. Di daerah Slipi, orang-orang sekitar saya terlihat sibuk membuka bekal masing-masing. Maghrib sudah tiba, waktu berbuka datang. Selain air mineral seperti saya, ada beberapa penumpang yang mempunyai bekal lain, yaitu gorengan. Bau semerbak gorengan tercium dalam bis AJA AC no. 138, jurusan Blok M – Cimone itu. Duh, pasti enak banget ya. Perut saya berontak. Ditawarin sih, sama pemuda tanggung yang duduk di sebelah saya. Tapi…. hmmmm….
Kenapa ya waktu itu saya gak ngambil?Ternyata, gorengan yang seharga 500 perak itu benar-benar bisa membuat saya gila. Makanan sederhana itu ternyata juga bisa menjadi makanan dari surga pada saat yang benar-benar dibutuhkan.
Marah, Tapi Senyum
Presentasi di tempat klien sebenarnya berjalan kacau, hanya karena team kerja saya tidak melakukan persiapan sebagaimana mestinya. Padahal sehari sebelumnya, bahkan saat sebelum berangkat menuju klien di Bekasi, saya sudah tanya tentang data-data yang nantinya diperlukan waktu presentasi. Tapi, ya gitu deh…… si item keriting nggak terima kalau dia disalahin. Keluarlah kata-kata pedas bak dendeng balado
dari bibir saya," Kalau gak mau terima salah, gak usah terima kerjaan. Ngerti?" Tapi, saya bicara sambil senyum lebar. Manis lah pokoknya hehehe….
Si item keriting pucat, dan saya masuk kamar mandi, wudhu dan sholat. Tenang sekali. Alhamdulillah, setelah sholat, si keriting gak lagi bertingkah. Gak ada kata maaf sih. Tapi biarlah. Yang penting dia tau dia salah dan bersedia merubah kelakuannya. Itu lebih penting.
Marhaban Ya Ramadhan
Kadang keinginan hati berbeda dengan kenyataan.
Buka kenyataan yang harus berubah tapi hati kita yang harusnya bisa menerima dan ikhlas.