|
|
 |
SIM untuk Pengguna Troli Supermarket
Saya membaca tulisan Samuel Mulia di Kompas Minggu kemaren, tanggal 13 Agustus 2006. Dia bercerita tentang kejadian di sebuah ruang tunggu dokter, dimana Samuel terpaksa harus berdiri padahal ada sebuah kursi kosong yang digunakan oleh seorang perempuan untuk meletakkan tas plastik. Saat itu, Samuel merasa dirinya punya status yang sama dengan tas plastik itu. Cuma seonggok barang.
Pernah gak sih, mengalami hal demikian? Saya sering sekali. Kemaren saja, saya mengalami berkali-kali. Mungkin karena terlalu sensitif. Atau bisa jadi terpengaruh dari kolom favorite saya itu sehingga jadi kepikiran ke sana terus.
Pertama, waktu melintasi jembatan busway di Benhil. Segerombolan anak muda, bercengkerama, seru sekali, di lintasan yang tidak begitu lebar itu. Mereka ber 6 atau ber 7 orang, berjalan 3 lapisan. Lapisan pertama, yang di belakang saya lewati dengan baik. Lintasan ke dua, kaki panjang saya melangkah lebih pelan karena terhambat oleh mereka.
"Oii, oiii.... ada yang mau lewat oi...," teriak barisan belakang kepada teman-temannya yang di depan. Lapisan kedua bergeser dan saya bisa mendahului mereka. Tapi lapisan paling depan... waduh... Cukup lama saya berjalan pelan di belakang mereka, tp mereka gak nyadar juga bahwa ada orang yang mau mendahului. Mereka malah dorong-dorongan yang menurut saya stupid banget di jalan sempit begitu. Untung saya gak ikutan terdorong.
"Permisi," ujar saya sedikit sewot. Tanpa suara, tanpa babibu, tanpa rasa bersalah, mereka membuka jalan buat saya.
Kejadian lebih kurang sama juga terjadi semalam, waktu belanja di Hypermart, Lippo Karawaci. Begitu banyak manusia mendorong trolley (troli) di lorong-lorong sempit itu sehingga kaki panjang saya mengalami kesulitan juga untuk meneruskan belanja yang emang buru-buru. Yang bikin sebel adalah troli-troli tak bertuan, yang teronggok di tengah jalan sempit itu. Mungkin si pemilik sedang memilih barang ditempat lain, atau membandingkan harga, atau cari kardus barang yang tak penyok atau bisa saja sedang ke toilet. Tapi mbok ya mikir dikit, bahwa yang dia lakukan justru merepotkan orang lain.
Tidak selamanya troli tak berpenghuni yang menganggu saya. Terkadang troli dengan pendorongnya, entah ibu, bapak, pembantu atau anak-anak yang sedang main, menjadi penyebab kejengkelan saya. Berhenti di tengah jalan, mendadak atau bahkan bercanda tanpa menghiraukan orang di belakangnya. Mungkin perlu pelatihan khusus sebelummendorong troli di supermarket. Atau mungkin perlu SIM juga, seperti pengemudi di jalan raya.
Saya cuma bisa jengkel bin sebel? Mau apa lagi, coba.... ? Urut dada? Menelan ludah? Tetap tak bisa memperbaiki kelakuan orang-orang yang telah menghambat perjalanan saya.
Untung ingat pesan Aa Gym. Jika mau berubah, mulailah dari diri sendiri. dari sebuah kejengkelan, lahir sebuah pelajaran bahwa saya harus bisa lebih baik dari mereka-mereka itu.
Jika orang lain kita beri kemudahan, maka kemudahan juga yang akan kita tuai. Tapi jika kita menghambat rejeki orang lain, menghambat jalan orang lain, maka rejeki kita pun akan tak lancar. Amin.
Posted at 04:05 pm by sebelas4
 |  |  | Rinto August 23, 2006 10:29 PM PDT
Cici,
Itu juo nan disabuik amak ambo di kampuang. Iyo bana tu mah. Kini baa awak nan manjalankannyo sajo. Insya Allah dapek nan di kandak :)
Amin
(Ci, terjemahan perai dih? hehehhe) |  |
  |  |  | boelandoea August 22, 2006 06:48 PM PDT
Kakinya panjang yak? Kalo panjang mustinya di catwalk Milan apa Nyuyok gitu.. bukan di jembatan Benhil heheheheh |  |
  |  |  | wesy'cici' August 18, 2006 09:35 AM PDT
setidaknya qta bisa belajar uda, kalo qta jangan sampai meniru tindakan2 mereka itu. Mudah2an qta menjadi manusia yang lebih baik dari mereka. Aminnn |  |
  |  |  | Rinto August 18, 2006 02:42 AM PDT
Uli, Alhamdulillah. Mudah2an bisa saling mengingatkan ya. |  |
  |  |  | uli August 15, 2006 05:57 PM PDT
setujuuuuu
ayo mulai dari diri sendiri
dan 1 yg aku pegang jangan pernah deh menghambat rezki orang lain,klo bisa jadi orang yg pemurah insyallah klo iklas akan mendapat pahala dan ganti nya dari Allah (sudah sangat2 sering terbukti ama aku, alhamdulillah) |  |
|